PROUD TO BE INDONESIAN, MAY ALLAH SWT ALWAYS SAVE AND BLESS INDONESIA....
Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts
Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts

Friday, July 22, 2011

Al-Qur'an dan Sains: Proses Terciptanya Awan

Al-Qur'an dan Sains: Proses Terciptanya Awan
Awan yang berarak lalu berkumpul dan menurunkan hujan.

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Awan yang terdapat di langit, pada mulanya terbentuk dari air yang berada di permukaan bumi yang mengalami penguapan. Setelah terbentuk, awan ini digiring oleh angin dari tempat penguapannya ke tempat pengendapannya atau ketempat di mana ia akan dicurahkan sebagai hujan.

Kecepatan angin yang menggiring awan lebih cepat dari awan itu sendiri. Angin ini berfungsi untuk mengumpulkan gumpalan-gumpalan awan yang satu dengan yang lainnya sehingga terhimpun di satu wilayah tertentu di kawasan atmosfir bumi. Di mana di tempat ini terdapat arus udara yang menekannya dari arah bawah gumpalan awan tersebut, dan terdapat butiran-butiran es dari arah atas dan bulir-bulir air dari bawahnya.

Awan yang telah terhimpun di suatu tempat, tidak hanya terhimpun karena proses pertemuan antara beberapa gumpalan awan yang dibawa oleh angin. Namun hal itu juga disebabkan arus dan aliran listrik yang terdapat pada awan-awan tersebut, baik arus positif maupun arus negatif, di mana pertemuan kedua arus, mengakibatkan percikan listrik yang berpengaruh pada awan.

Proses terhimpunnya awan ini terbentuk dalam pola yang menumpuk, di mana awan yang telah terkumpul, masih terus ditambahi oleh awan yang berikutnya. Dan berdasarkan penelitian para ilmuwan, penumpukan awan ini berbentuk seperti gunung, di mana pada bagian bawah lebih luas daerahnya dan bagian atas lebih menyempit.

Pergesekan yang terjadi antara himpunan awan yang berbeda-beda dengan kilat sebagai percikan listrik mengakibatkan terjadinya suara halilintar yang menggelegar dan mengguncangkan siapa saja yang dekat dengan tempat kejadiannya, sebagai akibat dari gelombang suara yang memiliki tingkat frekwensi yang sangat tinggi. Suara halilintar ini sering terjadi, sambil mengiringi jatuhnya air hujan ke bumi.

Demikianlah proses terjadinya awan, halilintar dan hujan. Hakikat ilmiah ini, tidak diketahui secara pasti dan detail, kecuali setelah kemajuan pesat dalam bidang penelitian luar angkasa dan ilmu meteorologi.

Padahal Al-Qur'an sendiri, sejak 14 abad yang lalu, telah memberikan petunjuknya berkaitan dengan fenomena alam ini, dalam surah An-Nur ayat 43. Allah SWT berfirman: "Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan."

Dari ayat di atas, kita mendapatkan Al-Qur'an telah menjelaskan proses terciptanya awan dan proses pengumpulan awan-awan yang kecil sehingga menjadi gumpalan awan yang besar. Sebagaimana, ia juga menjelaskan tentang akibat dari himpunan gumpalan awan tersebut, yaitu terjadinya kilat dan halilintar dan bentuk dari gumpalan awan tersebut, yang berbentuk seperti gunung. Sebagaimana firman Allah SWT: "dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung".


Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah
               http://www.republika.co.id/

Thursday, July 21, 2011

Astronomi Islam Klasik

http://blogwongjowo.blogspot.com/
Sebagai salah satu ilmu pengetahuan tertua dalam peradaban manusia, Astronomi kerap dijuluki sebagai ‘ratu sains’. Astronomi memang menempati posisi yang terbilang istimewa dalam kehidupan manusia.

Sejak dulu, manusia begitu terkagum-kagum ketika memandang kerlip bintang dan pesona benda-benda langit yang begitu luar biasa.
Awalnya, manusia menganggap fenomena langit sebagai sesuatu yang magis. Seiring berputarnya waktu dan zaman, manusia pun memanfaatkan keteraturan benda-benda yang mereka amati di angkasa untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti penanggalan. Dengan mengamati langit, manusia pun bisa menentukan waktu utuk pesta, upacara keagamaan, waktu untuk mulai menabur benih dan panen.

Jejak astronomi tertua ditemukan dalam peradaban bangsa Sumeria dan Babilonia yang tinggal di Mesopotamia (3500 – 3000 SM). Bangsa Sumeria hanya menerapkan bentuk-bentuk dasar astronomi. Pembagian lingkaran menjadi 360 derajat berasal dari bangsa Sumeria.

Wednesday, July 13, 2011

Al-Qur'an dan Sains : Garis Edar

  se7enheavens.blogspot.com
Al-Qur'an dan Sains: Garis Edar
Ilustrasi
 
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Setelah terjadinya ledakan besar dan gugusan benda-benda langit terbentuk, maka tiap benda langit tidak secara sendirian bergerak dan berjalan. Akan tetapi, masing-masing terkait dengan benda langit lainnya dalam satu gugusan kosmik yang mengagumkan.

Gugusan kosmik ini bergerak dalam waktu yang teratur dan terbagi-bagi lagi ke dalam gugusan yang lebih kecil. Di mana benda yang terkecil beredar mengelilingi benda yang lebih besar. Setiap benda ini memiliki kecepatan khusus dan garis edar tempat ia bergerak sehingga tidak terjadi benturan antar yang satu dengan yang lainnya yang dapat mengakibatkan kehancurannya.

Kecepatan antara satu benda dengan benda yang lainnya yang terdapat dalam satu gugusan tidak sama. Karena jika masing-masing memiliki kecepatan yang sama, bisa menyebabkan kerusakan sistem yang mengatur gerakan semua benda ini. Di mana masing-masing benda langit, memiliki gaya gravitasi (saling menarik) dan gaya penahan (menjauh) yang berbeda-beda.

Para ilmuwan selama ini telah berusaha sekuat tenaga, untuk mengetahui sistem pembagian garis edar untuk masing-masing benda langit dan ukuran kecepatan masing-masing serta hubungan antara satu benda dengan yang lainnya, hingga mereka dapat menyimpulkan sistem alam semesta ini, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Al-Qur'an dan Sains : Bentuk Bulat Bumi

sanmonku.deviantart.com
Al-Qur'an dan Sains: Bentuk Bulat Bumi
Bumi

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Pada masa lalu, keyakinan yang menjadi pendapat umum pada saat itu, menyatakan bahwa bumi mempunyai batasan akhir yang sekiranya manusia melewati batas itu, ia akan jatuh ke luar angkasa.

Namun lama kemudian, ternyata keyakinan mereka bertentangan dengan realitas yang mereka temukan sendiri. Mereka mendapatkan, ketika seseorang berjalan dan terus menelusuri semua permukaan bumi, dia tidak bisa terlepas dari luar lingkup permukaan bumi dan tidak terlempar ke luar angkasa.

Realitas yang mereka dapatkan ini, mendorong mereka untuk berpikir dan melakukan penelitian-penelitian berkenaan dengan bentuk sebenarnya dari bumi yang mereka huni. Bukti-bukti yang mereka dapatkan menunjukkan bahwa bumi, ternyata berbentuk bulat.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...