PROUD TO BE INDONESIAN, MAY ALLAH SWT ALWAYS SAVE AND BLESS INDONESIA....

Saturday, August 6, 2011

Masjid Bayan Beleq, Sejarah Masuknya Islam di Lombok

Sejarah masuknya agama Islam disinyalir telah terjadi pada abad 11 Masehi. Dan, Masjid Bayan Beleq di Lombok menjadi saksi sejarah peradaban itu...

Masjid Bayan Beleg LombokMasjid Bayan Beleg Lombok
PULAU Lombok, di provinsi Nusa Tenggara Barat, terkenal dengan keindahan Gunung Rinjani dan Pantai Senggigi nya yang menawan. Di luar itu, pulau nan indah di sebelah timur pulau Bali ini rupanya menyimpan bukti sejarah perkembangan Islam yang teramat tua, namun masih terawat dengan baik hingga kini.

Itulah Masjid berarsitektur tradisional khas pulau Lombok bernama Masjid Bayan Beleq. Masjid Bayan Beleq kini menjadi salah satu ikon pariwisata kabupaten Lombok Utara, bersama sama dengan Gunung Rinjani. Masjid kuno ini juga diabadikan dalam lambang daerah kabupaten Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan Beleq digambarkan dalam bentuk siluet bewarna merah sebagai integritas peradaban masyarakat Lombok Utara.

Logo kabupaten Lombok Utara..Disebutkan, bangunan Masjid Kuno Bayan menggambarkan tonggak peradaban masyarakat Lombok Utara yang dibangun berdasarkan kesadaran kosmos, kesadaran sejarah, kesadaran adat dan kesadaran spiritual. Konstruksi Masjid Kuno Bayan terdiri dari kepala, badan dan kaki, menggambarkan dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang merupakan satu kesatuan dalam entitas kosmos masyarakat Lombok Utara.

Masjid Kuno Bayan, merupakan salah satu warisan budaya yang harus dipelihara sebagai situs cagar budaya yang berkontribusi dalam National Heritages. Warna merah pada stilisasi bangunan masjid kuno Bayan menunjukkan keberanian untuk menegakkan jati diri sebagai masyarakat budaya yang dibangun berdasarkan religiusitas yang kuat.

Masjid Bayan Beleq terletak di desa Bayan, Kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara propinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok dapat dicapai dengan pesawat terbang dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan kota-kota lain. Dari Kota Mataram, perjalanan menuju Kecamatan Bayan dilanjutkan dengan transportasi umum atau dapat juga ditempuh dengan kendaraan sewaan. Masjid Bayan Beleq berjarak sekitar 87 kilometer dari kota Mataram, berada pada ketinggian 355 meter dari permukaan laut.

SEJARAH BALI KUNO

  • Bali Sebelum Tahun 800
Tonggak awal rentangan masa Bali Kuno, adalah abad VIII. Atas dasar itu maka periode sebelum tahun 800 sesungguhnya tidak termasuk masa Bali Kuno. Gambaran umum periode tersebut diharapkan dapat menjadi landasan pemicaraan mengenai masa Bali Kuno, sehingga terwujud uraian lebih utuh. Gambaran periode sebelum tahun 800 itu meliputi masa prasejarah Bali dan berita-berita asing tentang Bali, khususnya yang berasal dari Cina.
Babakan masa prasejarah Bali pada dasarnya sesuai dengan babakan masa prasejarah Indonesia secara keseluruhan. Babakan itu meliputi tingkat-tingkat kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan (baik yang tingkat sederhana maupun tingkat lanjut), masa bercocok tanam, dan masa perundagian atau kemahiran teknik.
Peninggalan-peninggalan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana ditemukan di desa Sembiran dan pesisir timur serta tenggara Danau Batur. Peninggalan-peninggalan itu berupa kapak perimbas, kapak genggam, pahat genggam, dan serut (Soejono, 1962 : 34-43 ; Heekeren, 1972 : 46). Tahap kehidupan berikutnya, yakni masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, meninggalkan bukti-bukti di Gua Selonding, Gua Karang Boma I, Gua Karang Boma II yang terletak di perbukitan kapur Pecatu (Kabupaten Badung). Bukti-bukti itu antara lain berupa alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, serta sisa-sisa makanan, yakni kulit-kulit kerang dan siput laut, serta gigi babi rusa (Sutaba, 1980 : 15). Bukti-bukti yang serupa ditemukan juga di Goa Gede Nusa Penida (Suastika, 2005 : 30-31).
Pada masa bercocok tanam, jumlah penduduk Bali telah bertambah dan persebarannya semakin meluas. Peninggalan benda-benda budaya mereka ditemukan di Palasari, Pulukan, Kediri, Kerambitan, Bantiran. Kesiman, Ubud, Payangan, Pejeng, Selulung, Selat, Nusa Penida, dan beberapa desa di Kabupaten Buleleng. Benda-benda itu pada umumnya berupa alat-alat dan perkakas yang digunakan sehari-hari, misalnya kapak dan pahat batu persegi empat panjang. Artefak-artefak tersebut di dapat sebagai temuan lepas, dalam arti, bukan merupakan hasil ekskavasi yang sistematik (Sutaba, 1980 : 19 ; cf. Suastika, 1985 : 30-33).
Masa perundagian merupakan babakan terakhir dari masa prasejarah. Benda-benda temuan dari masa ini antara lain berupa nekara (di Pejeng, bebitra, dan Peguyangan), tajak, gelang kaki dan tangan, cincin, anting-anting, ikat pinggang, dan pelindung jari tangan (Sutaba, 1980 : 23-25). Peninggalan-peninggalan lain yang berasal dari masa ini adalah cetakan nekara dari batu di desa Manuaba dan sejumlah sarkofagus yang ditemukan di desa Nongan, Bajing, Bedulu, Mas, Tegallalang, Plaga, Ambyarsari, Poh Asem, Tigawasa, dan Cacang (Sutaba, 1980 : 25-26).
Telah diketahui bahwa sarkofagus adalah salah satu sarana atau wadah penguburan. Wadah penguburan yang lain ada pula berupa tempayan. Tradisi penguburan dengan sarkofagus dan tempayan muncul bersamaan dengan tradisi megalitik di Indonesia, termasuk di Bali. Penguburan dengan tempayan adalah cara penguburan sekunder, yakni penguburan yang dilakukan setelah mayat lebih dahulu dikuburkan di tempat lain (penguburan primer). Dapat ditambahkan bahwa di situs prasejarah Gilimanuk ditemukan pula cara penguburan sekunder tanpa menggunakan wadah. Di situ, pada saat penguburan primer, mayat orang dewasa dan kanak-kanak dikubur dengan posisi membujur atau terlipat. Kemudian, tulang-tulangnya yang tertentu dikumpulkan untuk dikubur kembali di dalam tanah (penguburan sekunder) tanpa menggunakan wadah (Soejono, 1977 : 191-192, 223-227).
Sarkofagus dan peninggalan-peninggalan lain yang berasal dari tradisi megalitik kian hari semakin banyak ditemukan. Peninggalan-peninggalan itu antara lain berupa bangunan suci yang terdiri atas susunan batu, menhir, teras berundak (di Selulung, Batukaang, Tenganan Pegringsingan, Sembiran, dan Trunyan), tahta batu, arca menhir, lesung batu, palung batu, dan batu dakon (di Gelgel), serta arca-arca sederhana yang melambangkan nenek moyang ditemukan di Poh Asem, Depaa, dan Pura Besakih di dea Keramas (Covarrubias, 1972 : 26 ; 167-168 ; Sutaba, 1980b : 30 ; 1982 : 107-108 ; 1995 : 88-93 ; Mahaviranata, 1982 : 119-127 ; Oka, 1985 : 118-129).
Kemampuan menghasilkan benda-benda budaya yang telah disebutkan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan aspek-aspek sosial ekonomi, sosial budaya (termasuk religi), teknologi, dan sebagainya yang dicapai masyarakat prasejarah. Beberapa hal mengenai aspek-aspek itu dikemukakan berikut ini.
Para ahli tampaknya sepakat menyatakan bahwa kehidupan bercocok tanam merupakan “tonggak sejarah” kemajuan peradaban umat manusia yang sangat penting. Di antara mereka, bahkan ada yang menyatakan bahwa perubahan ke tahap kehidupan itu merupakan revolusi pertama dan sangat besar dalam sejarah peradaban umat manusia. Menurut H.R. van Heekeren, nenek moyang pendukung kebudayaan ini di Indonesia, termasuk yang di Bali, sudah menyebar dari tanah daratan Asia Tenggara. Mereka memasuki wilayah kepulauan lebih kurang pada tahun 1500-1000 sebelum masehi, setelah menempuh perjalanan panjang melalui darat, sungai, dan laut (1955 : 40-42).
Kehidupan bercocok tanam mendorong mereka bertempat tinggal tetap dan membangun perkampungan dengan organisasi yang semakin teratur. Mereka telah mengenal perdagangan, paling tidak dengan sistem tukar barang-barang in natura. Kehidupan religi mereka semakin berkembang. Pelaksanaan upacara-upacara berlandaskan konsep magis (sympathic magic) menjelang kegiatan berburu (Kosasih, 1985 : 159), merupakan salah satu hal yang mengawali perkembangan kehidupan religi mereka. Mereka juga telah meyakini adanya “kehidupan” setelah kematian, dalam arti, mereka meyakini bahwa arwah nenek moyang mempunyai kemampuan mengatur, melindungi, dan memberkahi orang-orang yang masih hidup, atau sebaliknya menghukum keturunannya jika ternyata berbuat salah. Hal ini dapat dibuktikan antara lain dengan perlakuan masyarakat terhadap jasad orang yang meninggal atau upacara-upacara penguburan yang diselenggarakan.

Monday, August 1, 2011

SITUS MEGALITIK CENGKUK, SUKABUMI JAWA BARAT


SUKABUMI, KOMPAS — Sejumlah barang ditemukan di Situs Megalitik Cengkuk, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Penemuan ini menguatkan dugaan Cengkuk pernah menjadi pusat kebudayaan zaman megalitik yang terus berlanjut pada zaman logam.

“Sepanjang tahun 2008, secara tidak disengaja, ditemukan sejumlah benda di kawasan tersebut,” kata Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukabumi Nung Nurhayati, Kamis (27/11).

Benda-benda yang ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2008 antara lain pipa rokok, gentong dari tanah, dan mangkuk dari porselen. Sebelumnya, di situs itu, tahun 2007 ditemukan genta dari prunggu dengan ukiran motif india, cawan tempat perhiasan, potongan patung kaki burung dari emas, dan potongan patung dewa syiwa. Benda-benda itu bukan peninggalan zaman megalitik, yang berarti kehidupan masyarakat terus berlanjut di sekitar Situs Cengkuk.

Pada zaman kolonial Belanda, dikawasan tersebut ditemukan sejumlah batu besar yang diduga untuk kegiatan ritual peninggalan zaman megalitik. Benda-benda tersebut tersebar di lahan seluas dua hektar.
 

Sunday, July 31, 2011

Peninggalan Arkeologi Klasik di Ciamis

PENELITIAN ARCA-ARCA DI CIAMIS KAITANNYA DENGAN RAGAM PENGARCAAN
Endang Widyastuti



Sari

Penelitian tentang ikonografi yang dilaksanakan di Kabupaten Ciamis telah mendata sejumlah arca. Berdasarkan ciri-cirinya arca-arca tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Ketiga kelompok tersebut yaitu arca tipe Polinesia, arca bercorak Hindu-Buddha, dan arca tipe Pajajaran.



Abstract

Iconography research in the Ciamis area had been collected data from a number of statues. Based on its characteristics, the statues can be divided into three groups. Which are Polynesians, Hindu-Buddha pattern, and Pajajaran types.


Kata Kunci: arca, tipe Polinesia, tipe Pajajaran



PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kawasan Ciamis banyak mengandung potensi arkeologis. Tinggalan-tinggalan tersebut meliputi kurun waktu yang cukup panjang, yaitu dari masa prasejarah sampai masa pengaruh Islam. Berdasarkan beberapa penelitian tercatat bahwa situs prasejarah di kawasan Ciamis berada di beberapa aliran sungai yang terdapat di daerah tersebut, di antaranya yaitu Sungai Cipasang dan Sungai Cisanca (Agus, 1994: 4; 1998/1999; Yondri, 1999: 4). Situs yang berasal dari masa Klasik di antaranya tercatat situs Karangkamulyan (Saptono, 2002), dan situs Kertabumi (Widyastuti, 2002a). Sementara itu dari masa Islam tercatat tinggalan berupa makam-makam Islam, di antaranya makam para bupati Ciamis dan Kompleks Makam Singaperbangsa (Widyastuti, 2000: 96). Tulisan ini akan membahas masa klasik di Kawasan Ciamis, khususnya mengenai arca-arca yang ditemukan tersebar di beberapa situs di Ciamis.

Di kawasan Sunda banyak ditemukan arca-arca yang berbeda bentuknya dengan arca di daerah lain, misalnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Arca-arca ini sering disebut dengan arca tipe Pajajaran. Penggambaran arca demikian berkaitan erat dengan perkembangan religi masa klasik Jawa Barat. Berdasarkan beberapa naskah seperti misalnya Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian dan Carita Parahyangan, menunjukkan bahwa pada awalnya, keagamaan yang melatari masyarakat Sunda adalah Hindu. Dalam perkembangannya agama Hindu bercampur dengan agama Buddha, dan pada akhirnya unsur kepercayaan asli muncul (Sumadio, 1990). Kemunculan kepercayaan asli dari para leluhur terlihat dari keterangan dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karêsian yang menurunkan derajat Dewata berada di bawah Hyang (Danasasmita, 1987: 96; Ayatrohaedi, 1982: 338). Fenomena yang terdapat di dalam naskah dan pada tinggalan arkeologis terlihat terdapat korelasi. Berdasarkan fenomena ini dilakukan penelitian ikonografi.

Penelitian tentang ikonografi di daerah Jawa Barat pernah dilakukan oleh J.F.G. Brumund dan N.J. Krom. Brumund dalam penelitiannya di daerah Bogor dan Priangan menemukan arca-arca yang kemudian disebut arca tipe Pajajaran (Mulia, 1980). Oleh Brumund istilah arca tipe Pajajaran hanya digunakan untuk menyebut arca Polinesia yang menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha, sedangkan arca yang tidak menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha tidak diberikan istilah tersendiri (Mulia, 1980: 600). Sementara itu, Krom menyatakan bahwa setiap arca yang tidak mempunyai ciri-ciri sebagai arca Hindu-Buddha yang menonjol adalah arca Polinesia dan berfungsi sebagai arca pemujaan leluhur. Menurut Krom arca Polinesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
  1. arca yang berasal dari masa sebelum zaman klasik
  2. yang dilanjutkan sesudah mulai pengaruh Hindu-Buddha dan tetap berfungsi; terdapat di daerah terpencil
  3. yang sudah terpengaruh oleh kebudayaan Hindu-Buddha tetapi disesuaikan dengan konsepsi baru (Mulia, 1980: 602).
Berdasarkan pendapat Brumund dan Krom dapat ditarik kesimpulan bahwa di daerah Jawa Barat terdapat beberapa tipe arca, yaitu arca yang berasal dari masa sebelum klasik dan awal masa klasik yang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Arca semacam ini biasa disebut dengan arca tipe Polinesia atau arca megalitik. Tipe arca yang kedua adalah yang telah mendapat pengaruh Hindu-Buddha tetapi telah mengalami percampuran dengan kepercayaan asli. Arca sejenis ini biasa disebut dengan arca tipe Pajajaran. Di samping kedua tipe arca tersebut terdapat pula arca yang mengandung ciri-ciri sebagai pantheon Hindu atau Buddha.

Balai Arkeologi Bandung pada penelitian tahun 2000 di daerah Cirebon telah mendata beberapa arca tipe Pajajaran ini (Widyastuti, 2002b). Arca-arca tersebut digambarkan dengan sangat sederhana. Bentuk tangan dan kaki semuanya digambarkan melekat ke badan yang ditampilkan dengan memberikan batas goresan saja. Selain itu bentuk wajah sangat sederhana hanya berupa goresan-goresan yang membentuk mata, hidung, dan bibir. Berdasarkan pengamatan terhadap atribut yang ada dapat diketahui bahwa sekumpulan arca tersebut di antaranya menggambarkan Ganeça, Siwa, Lingga, dan arca-arca tipe Polinesia. Sementara itu, penelitian tahun 2003 yang dilaksanakan di daerah Kuningan juga mencatat adanya arca-arca sejenis. Arca-arca dari daerah Kuningan tersebut di antaranya menggambarkan Ganeça, Nandi, Lingga, Yoni, dan arca-arca Polinesia (Widyastuti, 2003).

Objek yang akan dibahas dalam makalah ini adalah arca-arca yang ditemukan di Kabupaten Ciamis. Ciamis pada masa klasik sering dihubungkan dengan keberadaan Kerajaan Galuh. Menurut Van der Meulen terdapat tiga Kerajaan Galuh, yaitu Galuh Purba yang berpusat di daerah Ciamis, Galuh Utara (Galuh Lor, Galuh Luar) yang berpusat di daerah Dieng, dan Galuh yang berpusat di Denuh (Tasikmalaya) (Iskandar, 1997: 97). Menurut Carita Parahyangan, Kerajaan Galuh mula-mula diperintah oleh Raja Séna. Pada suatu ketika Galuh diserang oleh Rahyang Purbasora. Ketika Sanjaya dewasa dapat merebut kembali dan berkuasa di Galuh (Danasasmita, 1983/1984: 61; Iskandar, 1997: 126 - 134). Nama Galuh (Galoeh) pada zaman Hindia-Belanda dijadikan nama kabupaten (afdeeling) yang termasuk dalam wilayah Residentie Cheribon. Wilayah afdeeling Galoeh di antaranya district Ciamis, Ranca, Kawali, dan Panjalu.

PURA TAMAN AYUN, BALI INDONESIA


Pura Taman Ayun yang terletak di Desa Mengwi, Kabupaten Badung, sekitar 18 km ke arah barat dari Denpasar. Pura ini sangat indah, sesuai dengan namanya yang berarti pura di taman yang indah. Selain indah, Pura Taman Ayun juga dinilai memiliki nilai sejarah, sehingga pada tahun 2002 Pemda Bali mengusulkan kepada UNESCO agar pura ini dimasukkan dalam World Heritage List


Pura Taman Ayun merupakan Pura lbu (Paibon) bagi kerajaan Mengwi. Pura ini dibangun oleh Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu, pada tahun 1556 Saka (1634 M). Pada mulanya, I Gusti Agung Putu membangun sebuah pura di utara Desa Mengwi untuk tempat pemujaan leluhurnya. 
Pura tersebut dinamakan Taman Genter. Ketika Mengwi telah berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, I Gusti Agung Putu memindahkan Taman Genter ke arah timur dan memperluas bangunan tersebut. Pura yang telah diperluas tersebut diresmikan sebagai Pura Taman Ayun pada hari Selasa Kliwon-Medangsia bulan keempat tahun 1556 Saka. Sampai sekarang, setiap hari Selasa Kliwon wuku Medangsia menurut pananggalan Saka, di pura ini diselenggarakan piodalan (upacara) untuk merayakan ulang tahun berdirinya pura.

Pura Taman Ayun telah mengalami beberapa kali perbaikan. Perbaikan secara besar-besaran dilaksanakan tahun 1937. Pada tahun 1949 dilaksanakan perbaikan terhadap kori agung, gapura bentar, dan pembuatan wantilan yang besar. Perbaikan ketiga tahun 1972 dan yang terakhir tahun 1976.

PURA ULUWATU, BALI INDONESIA

Pura Uluwatu terletak di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sekitar 30 km ke arah selatan dari kota Denpasar. Pura Uluwatu yang juga disebut Pura Luwur ini merupakan salah satu dari Pura Sad Kahyangan, yaitu enam Pura Kahyangan yang dianggap sebagai pilar spiritual P. Bali.  



Ada dua pendapat tentang sejarah berdirinya pendirian Pura Uluwatu. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pura ini didirikan oleh Empu Kuturan pada abad ke-9, yaitu pada masa pemerintahan Marakata. Pendapat lain mengaitkan pembangunan Pura Uluwatu dengan Dang Hyang Nirartha, seorang pedanda (pendeta) yang berasal dari Kerajaan Daha (Kediri) di Jawa Timur. Dang Hyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1546 M, yaitu pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Sang Pedanda kemudian mendirikan Pura Uluwatu di Bukit Pecatu. Setelah melakukan perjalanan spiritual berkeliling P. Bali, Dang Hyang Nirartha kembali ke Pura Uluwatu. Di pura inilah Sang Pedanda 'moksa', meninggalkan 'marcapada' (dunia) menuju 'swargaloka' (surga). Upacara atau 'piodalan' peringatan hari jadi pura jatuh pada hari Anggara Kasih, wuku Medangsia dalam penanggalan Saka. Biasanya upacara tersebut berlangsung selama 3 hari berturut-turut dan diikuti oleh ribuan umat Hindu.

Tempat Pengamatan Bintang Tertua, Cheomseongdeo Korea


pengamatan_bintang__CheomseongdeoCheomseongdae tercatat dalam sejarah sebagai peninggalan Dinasti Shilla di awal abad 7. Terletak di kota Gyeongju, Korea Selatan, Cheomseongdae merupakan tempat pengamatan bintang (observatorium) tertua sekaligus satu dari sedikit observatorium kuno yang tersisa di dunia sampai hari ini. Buku Rekor Dunia resmi mencantumkannya sebagai bangunan observatorium tertua yang masih tegak berdiri.

Bangunan yang terbuat dari batu itu dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok dan bangunannya yang masih berdiri sampai sekarang, menjadi warisan kebudayaan bangsa Korea dan salah satu objek wisata menarik di Korea Selatan.

Konstruksi Cheomseongdae diduga sengaja didesain sedemikian rupa berdasarkan filosofi-filosofi khusus. Pada bagian alasnya yang tersusun atas 12 balok batu, serta 12 tingkat pada tangga pintu masuk dan 12 lapis di bagian bawah jendela nampaknya melambangkan kedua belas bulan dalam tahun. Jumlah batu untuk menyusun menara utama yang 365 buah menandakan jumlah hari dalam satu tahun masehi.

Sebagian besar peneliti setuju akan status Cheomseongdae sebagai sebuah observatorium. Hal itu dikarenakan catatan-catatan sejarah di Korea, Jepang, dan Cina yang mendukung. Peneliti modern pertama yang meninjau Cheomseongdae, Tadashi Sekino, menyimpulkan bahwa Cheomseongdae adalah sebuah observatorium, walaupun strukturnya ganjil.

Kemudian seorang ahli meteorologi dari Jepang, Yuji Wada yang mulai mengadakan penelitian di lokasi Cheomseongdae tahun 1909 meyakinkan bahwa Cheomseongdae adalah observatorium. Pengamatan astronomi dilakukan dengan mata telanjang, dengan alat-alat seperti gnomon. Tentunya perhitungan-perhitungan khusus dilakukan dengan bantuan kalender.

Menurut penelitian pula, bangunan ini selama ratusan tahun dipakai para astronom kerajaan untuk mempelajari pergerakan bintang dan planet. Serta memperkirakan gerhana bulan dan matahari.

Kemudian setelah diinterpretasi, hasilnya dilaporkan pada raja atau ratu, untuk membantu mereka mengambil keputusan dalam upaya memperkuat otoritas kerajaan serta meningkatkan kualitas taraf kehidupan. Selain itu, Cheomseongdae dipercaya pula membantu menyingkapkan pemahaman rakyat, di zaman itu, mengenai surga dan kuasa ilahi.


Sumber: nationalgeographic.co.id 
             http://arkeologi.web.id/

SEJARAH KESULTANAN TERNATE, MALUKU INDONESIA

Kerajaan Gapi atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kesultanan Ternate (mengikuti nama ibukotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke -16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Di masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di pasifik.

ASAL USUL

Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal abad ke-13, penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat 4 kampung yang masing - masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga), merekalah yang pertama – tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah – rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa. Oleh karena aktivitas perdagangan yang semakin ramai ditambah ancaman yang sering datang dari para perompak maka atas prakarsa momole Guna pemimpin Tobona diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja.

Tahun 1257 momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau kampung besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama). Semakin besar dan populernya Kota Ternate, sehingga kemudian orang lebih suka mengatakan kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia khususnya Maluku.

MANFAAT JENGGER AYAM

Jengger Ayam

(Celosia cristata L.) Sinonim :
C. argentea L. var cristata (L.) O. Ktze.

Familia :
Amaranthaceae

Uraian :
Umumnya, jengger ayam ditanam di halaman dan di taman-taman, jarang terdapat tumbuh liar. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dpl. Terna semusim ini tumbuh tegak, tinggi 60--90 cm, berbatang tebal dan kuat, bercabang, beralur. Daun tunggal, bertangkai, letak berseling. Helaian daun bentuknya bulat telur sampai memanjang dengan panjang 5--12 cm, lebar 3,5--6,5 cm, ujung meruncing, pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, warnanya hijau dengan sedikit garis merah di tengah daun. Bunga majemuk berbentuk bulir, tebal berdaging, bagian atas melebar seperti jengger ayam jago, berlipat-lipat dan bercangap atau bercabang, keluar di ujung batang atau di ketiak daun, warnanya ungu, merah, dadu, atau kuning. Buah kotak, bulat telur, merah kehijauan, retak sewaktu masak, terdapat dua atau beberapa biji kecil, berwarna hitam. Perbanyakan dengan biji.

Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: celala (Gayo), banda ulu (Toba), bunga tali (Palembang). Jawa: jawer hayam, j. kotok (Sunda), bayem cenggeng, jengger ayam (Jawa), jhanghar ayam, rebha mangsor (Madura). Nusa Tenggara: janggar siap (Bali), ndae ana sina (Roti), bunak manula larit (Timor). Sulawesi: tatara manuk, sapiri manu, bunga api-api (Minahasa), laya (Gorontalo), langgelo (Buol), kaputi ayam, rangrang jangang (Makasar), bunga taEi manu, puwa ri sawito (Bugis). Maluku: wire, kolak (Kai), toko marerede (Halmahera), sule-sule (Ternate).Melayu: bayam biludu, rara ayam. NAMA ASING Ji guan hua (C.), coxcomb, cockscomb (I), hahnenkamm. NAMA SIMPLISIA Celosiae cristatae Flos (bunga jengger ayam

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Bunga jengger ayam rasanya manis, sifatnya sejuk, astringen, dengan afinitas ke meridian hati dan ginjal. Berkhasiat antiradang, penghenti perdarahan (hemostatis), dan menerangkan penglihatan.

Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIGUNAKAN
Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah bunganya. Keringkan dengan cara dijemur untuk penyimpanan.

INDIKASI
Bunga digunakan untuk pengobatan:
- perdarahan seperti mimisan (epistaksis), batuk darah (hemoptisis), muntah darah (hematemesis), air kemih berdarah (hematuria), wasir berdarah,  perdarahan rahim,
- disentri, diare,
- penglihatan kabur, mata merah,
- infeksi saluran kencing, kencing nanah, dan o keputihan (leukorea).

CARA PEMAKAIAN
Untuk obat yang diminum, gunakan 10--15 g bunga kering yang direbus atau bunga kering yang digiling halus menjadi bubuk atau dibuat pil.

Untuk pemakaian luar, rebus bunga segar. Setelah dingin, gunakan airnya untuk mencuci luka berdarah, wasir berdarah, gatal-gatal (pruritus). Selain itu, dapat juga menggunakan bunga segar yang digiling halus, lalu tempelkan ke tempat yang sakit, seperti wasir, gigitan serangga, atau luka.

CONTOH PEMAKAIAN DI MASYARAKAT
Menghentikan perdarahan, seperti pada batuk darah, muntah darah, mimisan, dan wasir berdarah
Rebus semua bahan segar, seperti bunga jengger ayam, urang-aring (Eclipta prostrata), dan akar alangalang (Imperata cylindrica) masing-masing 15 g dengan tiga gelas air sampai tersisa satu gelas. Setelah dingin, saring airnya, lalu minum sekaligus pada pagi hari sebelum makan. Rebus ampasnya sekali lagi dan minum pada sore hari.

Perdarahan rahim
Larutkan bubuk jengger ayam (6 g) dalam arak (15 g). Minum sekaligus sebelum makan nasi. Pantang makan yang amis-amis dan daging babi.
Giling bunga jengger ayam kering menjadi serbuk. Ambil sebanyak 5 g, seduh dengan secangkir air panas, lalu tutup. Setelah dingin, minum sekaligus. Lakukan 3-4 kali sehari.

Disentri
Siapkan bunga jengger ayam (15 g), sambiloto (Andrographis paniculata) (15 g), dan patikan kebo (Euphorbia hirta) (10 g). Semuanya dalam bentuk bahan kering. Tambahkan tiga gelas air dan rebus sampai airnya tersisa satu gelas. Setelah dingin, saring dan minum sekaligus sebelum makan. Rebus ampasnya sekali lagi, minum airnya pada sore hari.

Keputihan
Siapkan bunga jengger ayam dan sambiloto (Andrographis paniculata) (masing-masing bahan kering sebanyak 15 g) serta daun Iler segar (Coleus scutellarioides) (10 lembar). Tambahkan tiga gelas air dan rebus sampai airnya tersisa satu gelas. Setelah dingin, saring dan minum sekaligus sebelum makan. Rebus ampasnya sekali lagi dan minum airnya pada sore hari.

Infeksi saluran kencing
Siapkan bunga jengger ayam (15 g), herba daun sendok (Plantago mayor) (15 g), daun kumis kucing (Orthosiphon spicatus) (30 g), dan daun sambiloto (20 g). Semuanya dalam bentuk bahan kering. Cuci semua bahan, lalu rebus dengan tiga gelas air sampai tersisa separuhnya. Setelah dingin, saring dan minum sehari tiga kali, masing-masing setengah gelas. Lakukan setiap hari sampai sembuh.

Komposisi :
Bunga mengandung minyak lemak, kaempferitrin, amaranthin, pinitol, sedangkan pada daun terdapat saponin, flavonoida, dan polifenol.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...